Postingan

Menulis Diawali dari Niat

 Saat menulis, maka dapat diawali dari memiliki niat yang sangat kuat. Bila lama tak menulis, maka pikiran berselirat .  Laksana akar pohon yang jalin menjalin di antara sulur yang satu dengan yang lain terjadi semakin rumit.  Nah, pikiran saya seperti itu. Bila lama tak menulis, maka kelindan pikiran itu kian hari makin rumit. Seperti benang ruwet yang menunggu untuk diurai. Mengurai benang perlu sabar, harus dicari ujung pangkalnya agar bisa ditelusuri di bagian mana yang mulai kusut. Pikiran tak bisa dilacak di mana ujung pangkalnya. Baca juga: Menulis dengan Diagram Kreatif Pram Saya baca di NGI satu buah ingatan akan memicu serombongan saraf-saraf di otak bereaksi. Seperti halnya listrik yang mengantarkan setrum. Hal ini yang membikin sulit mencari di mana ujung pangkal pikiran yang bersemayam di otak itu. Agar pikiran tak berselirat seperti akar yang berkelindan menopang pohon. Saya perlu merumuskan banyak hal. Namun, sejatinya saya hanya perlu menulis. S

Menulis dengan Diagram Kreatif Pram

Para penulis seringkali kebingungan bagaimana menghasilkan tulisan yang baik. Di tulisan ini, kita akan belajar dari Pramoedya Ananta Toer terutama mengenai diagram menulis kreatif. Dalam menulis, Pram menemukan apa yang disebutnya diagram menulis kreatif. Di dalamnya terdapat unsur gunung, kuil, dan matahari. Baca juga: Menulis adalah Sebuah Anugerah Gunung merupakan lambang ketekunan, dikatakan Pram, sebagai pesangon yang diwakili puncak-puncaknya. Kuil menyimbolkan ilmu, pengetahuan, kearifan, serta kebijakan. Matahari Sementara matahari mewakili sang pribadi dengan integritasnya. Kata Pram, "Orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tidak menulis, ia akan hilang dari masyarakat dan dari sejarah. Menulis adalah bekerja untuk keabadian." Dirangkum dari 'Klasika' di harian Kompas

Menulis adalah Sebuah Anugerah

Marcia Preston sedang asyik menulis saat cucunya, Jessica, yang berumur tiga tahun mengganggunya. Menulis adalah pekerjaan Marcia. Ia bisa berada di ruang kerjanya dan tak mengizinkan siapa pun datang mengganggu. Namun, khusus untuk Jessica ia tak bisa menolak kehadiran malaikat kecil itu. Si mungil yang tinggal jauh darinya itu, memberikan kebahagiaan, merampasnya dari dunia ilusi yang dibangunnya perlahan-lahan. Ia tak menyesal karena itu. Marcia paham, betapa hal-hal yang paling dicintai selalu meminta pengorbanan. Cokelat penuh dengan lemak dan kalori. Teknologi membuat hidup lebih mudah tapi sekaligus memperumitnya. Bahkan sukacita murni kerja fisik pun dinodai oleh keletihan dan rasa sakit. Ia selalu tidak sabar untuk menunggu kunjungan cucu perempuan dan keluarganya, namun pada saat yang sama ia harus bangun tengah malam untuk menyelesaikan tulisannya. Baca juga: Menulis adalah Usaha Setiap Hari Bagi Marcia, menulis adalah anugerah mendua. Kita, yang kecanduan menulis, kata dia,

Menulis adalah Usaha Setiap Hari

 Menulis adalah usaha setiap hari. Meskipun saat tidak ingin melakukannya, menulislah. Meskipun sudah banyak yang dituliskan, menulislah. Semua Sudah Dituliskan? Irving Wallace pernah mendengar seorang profesor berkata kepada seorang penulis pemula, “Semua sudah pernah ditulis, dan ditulis dengan lebih baik daripada kamu bisa melakukannya. Jika kamu berniat menulis tentang cinta, tragedi, petualangan...lupakan saja, karena semua itu sudah dilakukan oleh Shakespeare, Dickens, Tolstoy, Flaubert, dan lainnya. Kecuali jika kamu mempunyai sesuatu yang benar-benar baru untuk dikatakan, jangan menjadi seorang penulis. Pelajarilah akuntansi.” Belum Semuanya Dituliskan Baca juga: Menulis adalah Latihan Tanpa Henti Kata-kata tersebut menurut Wallace adalah begitu konyol dan benar-benar bodoh. Semuanya belum dikatakan, dan takkan pernah dikatakan. Emosi manusia mungkin selalu sama, tapi di bumi ini tidak pernah ada seorang pun sebelum dirimu yang persis sepertimu dan

Menulis adalah Latihan Tanpa Henti

Mari kita belajar kepada seorang penulis bernama Dan Millman yang mengatakan perlunya seorang penulis untuk menulis terus menerus tanpa henti. Francis Bacon menulis, “Kita mendaki tinggi sekali dengan sebuah tangga melingkar.” Sementara itu, Issac Bashevis  menulis, “Hidup adalah novel Tuhan, biarkanlah Tuhan yang menulisnya.” Memang, siapa yang bisa menebak liku-liku jalan yang mungkin ditempuh hidup kita? Yang bisa kita lakukan sebagai penulis adalah mencoba, mengerahkan usaha, menabur benih, dan menuai panen apa pun yang diberikan dengan penuh suka cita dan syukur. Di SMA dan perguruan tinggi, Dan Millman lebih dikenal sebagai seorang atlet daripada seorang penulis. Bakatnya terpendam, sampai kemudian ia menyadari, bahwa ia menyukai menulis. Baginya, ada sesuatu yang menarik saat ia memahat kata-kata—menambang permata dari alam bawah sadar yang kreatif—yang membuat waktu seakan terbang. Latihan Tanpa Henti Baca juga: Cara Mencapai Keajaiban Menulis Senjata Dan

Cara Mencapai Keajaiban Menulis

 Tahukah Anda apa keajaiban menulis? Kemudian bagaimana keajaiban itu terjadi ketika bayangan di kepala seseorang bisa berpindah ke kepala orang lain melalui tulisan? Ayah Sue, C.W. “Chip” Grafton adalah seorang pengacara obligasi di Louisville, Kentucky. Ia menghabiskan 40 tahun hidup profesionalnya dengan mengabdi kepada hukum. Ia membesarkan dua putrinya, Sue dan Ann dengan kecintaan kepada buku. Ia pun memberikan contoh, bagaimana selepas jam kerja ia menghabiskan waktu untuk menulis. Sue kerap kali memperoleh pelajaran menulis dari ayahnya. Pada saat itu, ia tidak berniat menjadi penulis. Pada tahun-tahun itu, seorang wanita apabila sudah “besar”, maka pilihan profesinya adalah menjadi perawat, guru atau balerina. Secara sadar, karena menyadari kelemahannya, Sue memilih untuk menjadi seorang pengajar. Satu hari, Chip mengajari Sue menulis. Chip berkata, “Kamu harus mempertahankan kesederhanaan tulisanmu. Bukan kamu yang berhak merevisi bahasa Inggris. Kamu harus selal

Menulis untuk Memancarkan Pesan

Banyak sekali tujuan menulis, tetapi di antaranya adalah untuk memancarkan pesan kepada manusia lainnya. Pesan itulah yang menyebabkan kita terhubung dengan pengarang dan menyukai suatu tulisan. Pesan yang Terpancar “Apa pun yang kalian tulis akan terpancar pesannya.” Kata-kata itu didengar pertama kali oleh Elizabeth Engstrom dari Theodore Sturgeon. Theodore sendiri adalah seorang penulis besar yang merupakan seorang pakar fiksi ilmiah. Satu hari ia datang ke kota tempat Elizabeth tinggal untuk memberikan lokakarya. Sebelumnya Elizabeth sendiri telah menulis. Namun, semua yang ditulisnya terasa angkuh, fanatik, atau berprasangka. Ia merasa karya fiksi ciptaannya tak bagus dan pesannya tak sampai untuk umat manusia. Pertanyaan Elizabeth Baca juga: Menulis adalah Memberi Kata yang Tepat Dalam lokakarya itu, Elizabeth berencana akan mengajukan sebuah pertanyaan kepada Theodore, “Apa yang Anda lakukan ketika Anda ingin berkhotbah?” Hal ini merasa perlu ditanyakan oleh Elizabeth karena ia